Micro Sleep, Pembunuh di Jalanan yang Datang Tanpa Permisi: Kisah Terios Terguling di Jalan Sengkawit
News Tanjung Selor– Sebuah mobil Daihatsu Terios berwarna abu-abu meluncur perlahan di Jalan Sengkawit, Tanjung Selor, Kalimantan Utara. Suasana mungkin tenang, rutinitas perjalanan yang biasa. Pengemudinya, seorang pria berinisial AS (52), tengah dalam perjalanan dari Tugu Lemlai Suri menuju Tugu Cinta Damai. Sebuah perjalanan yang seharusnya berakhir dengan selamat di rumah. Namun, di sebuah tikungan, naluri bertahan hidup tiba-tiba hilang. Kendali direbut oleh kekuatan tak kasat mata yang bernama micro sleep. Hanya dalam hitungan detik, mobil itu hilang kendali, menyimpang dari jalur, menabrak pohon, sebelum akhirnya terguling dan terperosok ke dalam parit. Itulah kronologi mengerikan yang diungkapkan oleh pihak Kepolisian Resor Bulungan, sebuah peristiwa yang bisa menimpa siapa saja, kapan saja.
Apa Itu Micro Sleep? Si “Pencuri Kesadaran” yang Mematikan
Iptu Magdalena Lawai, Kasi Humas Polresta Bulungan, menyebutkan dugaan kuat “micro sleep” sebagai biang keladi insiden ini. Tapi apa sebenarnya micro sleep?
Micro sleep adalah episode singkat—berlangsung hanya beberapa detik hingga setengah menit—di mana seseorang tertidur tanpa menyadarinya. Otak, yang kelelahan, memaksakan diri untuk “mematikan” sistem sadar sejenak untuk beristirahat. Yang mengerikan, selama episode ini, mata Anda mungkin masih terbuka, tetapi Anda sebenarnya buta secara kognitif terhadap lingkungan sekitar. Anda tidak melihat jalan, tikungan, atau kendaraan lain.

Baca Juga: Mabes Polri Limpahkan Kasus Tambang Ilegal ke Kejari Bulungan, Juliet Akan Disidang di Tanjung Selor
Dalam konteks mengemudi, beberapa detik itu adalah abadi. Pada kecepatan 60 km/jam, kendaraan meluncur sejauh hampir 17 meter setiap detiknya. Bayangkan jika dalam jarak sejauh itu, pengemudi sedang “tidak ada” di belakang kemudi. Itu adalah jarak yang cukup untuk meluncur ke jalur lawan, menabrak pembatas jalan, atau seperti yang terjadi pada Terios di Jalan Sengkawit—terguling ke parit.
Mengurai Kronologi: Dari Tugu Cinta Damai ke Tepi Jurang
Berdasarkan penuturan Kasi Humas, peristiwa ini adalah kecelakaan tunggal murni. Mobil Terios bernopol KU 1450 AC itu melintas di jalur yang dikenal memiliki tikungan. Saat mendekati tikungan di Jalan Sengkawit, pengemudi AS diduga mengalami micro sleep.
-
Fase 1: Kehilangan Kendali. Dalam keadaan setengah tidur, respons AS terhadap setir dan rem menjadi lambat atau bahkan tidak ada. Mobil pun tidak lagi mengikuti alur tikungan.
-
Fase 2: Tabrakan Pertama. Mobil keluar dari jalur dan menghantam sebuah pohon di sisi kiri jalan. Tabrakan ini kemungkinan menjadi “bangunkan” paksa bagi AS, tetapi sudah terlambat. Energi kinetik dari kendaraan telah membuatnya tidak stabil.
-
Fase 3: Terguling dan Terjun ke Parit. Setelah menabrak pohon, mobil kehilangan keseimbangan dan terguling. Momentumnya membawa kendaraan yang sudah terguling itu masuk ke dalam parit, mengakhiri “perjalanan liar”-nya.







