, ,

Suasana Khidmat Warnai Kick Off Hari Santri 2025 di Gedung PBNU

by -451 Views

Merengkuh Warisan Resolusi Jihad: Gus Yahya dan Pidato Kebangkitan Santri untuk Indonesia yang Berperadaban

News Tanjung Selor– Suasana di Gedung PBNU, Jl. Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, pada Jumat, 10 Oktober 2025, penuh dengan khidmat dan semangat kebangsaan. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara resmi menggelar Kick Off Hari Santri 2025 yang mengusung tema besar “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia.” Pada kesempatan ini, Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf, atau yang karib disapa Gus Yahya, menyampaikan pidato arahan yang tidak hanya mendefinisikan ulang esensi kesantrian, tetapi juga menabuh gema persatuan nasional di tengah tantangan global yang kian kompleks.

Dengan diawali salam dan sholawat yang khusyuk, Gus Yahya membuka pidatonya dengan menyambut seluruh jajaran PBNU, mulai dari Rais ‘Aam KH. Miftachul Akhyar, para wakil ketua, ketua, pimpinan lembaga, hingga badan otonom (banom). Kehadiran mereka menandai sebuah komitmen kolektif untuk menghidupkan kembali semangat yang terkandung dalam Hari Santri.

Tiga Pilar Utama Identitas Santri: Ilmu, Tazkiyah, dan Jihad

Di bagian awal pidatonya, Gus Yahya dengan gamblang melukiskan hakikat menjadi seorang santri. Menurutnya, menjadi santri bukan sekadar status, melainkan “sa’yun syāmil”—sebuah perjuangan utuh yang memadukan setidaknya tiga elemen fundamental:

Suasana Khidmat Warnai Kick Off Hari Santri 2025 di Gedung PBNU
Suasana Khidmat Warnai Kick Off Hari Santri 2025 di Gedung PBNU

Baca Juga: Ibu Kota Tanjung Selor Kini Lebih Tertib Berkat Pengawasan Intensif Polresta Bulungan

  1. Thalabul ‘Ilmi (Mencari Ilmu): Gus Yahya menyentil dengan gaya bahasanya yang khas, “dulu disebut menuntut ilmu, tapi kita khawatir nanti dianggap ilmu ini punya salah sehingga dituntut-tuntut, maka kita maknai dengan mencari ilmu.” Ini adalah metafora cerdas tentang semangat aktif dan tanpa takut dalam menimba ilmu pengetahuan, baik agama maupun umum.

  2. Tazkiyatun Nafs (Membersihkan Jiwa): Inilah pembeda utama santri dengan pelajar di lembaga sekuler atau formal modern. Seorang santri tidak hanya mengasah akal, tetapi juga melakukan “riyadlah” atau “tirakat” untuk membersihkan jiwanya. Ilmu tidak diraih hanya dengan membaca, tetapi dengan dedikasi total lahir dan batin.

  3. Jihad fī Sabīlillāh (Berjuang di Jalan Allah): Ini adalah puncak dari penghambaan seorang muslim. Gus Yahya menegaskan bahwa seluruh keberadaan manusia adalah untuk mengabdi kepada Allah SWT, dan bentuk pengabdian tertinggi adalah jihad di jalan-Nya.

Dengan tiga pilar ini, Gus Yahya menegaskan bahwa santri adalah sosok yang integral, tidak terpisah antara kecerdasan intelektual, spiritual, dan tanggung jawab sosial-keagamaannya.

BRIMO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.