, ,

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Dipertanyakan Usai Puluhan Pelajar di Garut Keracunan

by -1020 Views

Carut Marut MBG: Dari Bireun Aceh, Garut Jawa Barat, Hingga Selayar Sulsel

News Tanjung Selor– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah sebagai upaya penanggulangan stunting dan peningkatan gizi anak sekolah kembali menuai sorotan. Bukannya menjadi solusi, program ini justru berujung pada insiden keracunan massal dan penyajian menu yang tidak memadai di berbagai daerah. Mulai dari Garut, Jawa Barat; Bireun, Aceh; hingga Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Kejadian ini mempertanyakan keseriusan dan tata kelola program yang seharusnya mulia ini.

Garut, Jawa Barat: 569 Pelajar Terpapar, Puluhan Dirawat

Pada Rabu (17/9) lalu, dunia pendidikan di Kabupaten Garut diguncang insiden tragis. Sebanyak 569 pelajar dari empat sekolah—SMA Siti Aisyah, MA Maarif Cilageni, SMP Siti Aisyah, dan SDN 2 Mandalasari—dilaporkan mengalami gejala keracunan usai menyantap menu MBG.

Kepala Dinas Kesehatan Garut, Leli Yuliani, menjelaskan, “19 orang diantaranya dirawat di Puskesmas Kadungora. Semuanya mengalami gejala sakit perut, pusing, mual, muntah dan diare meski sebagian sudah berangsur sembuh dan sudah beberapa dipulangkan.”

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Dipertanyakan Usai Puluhan Pelajar di Garut Keracunan
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Dipertanyakan Usai Puluhan Pelajar di Garut Keracunan

Baca Juga: Tahun Depan Pasar Induk Tanjung Selor Bulungan Bakal Dipagar Keliling, Demi Keamanan dan Penataan

Dinas Kesehatan setempat telah mengambil sampel makanan untuk diuji di laboratorium di Bandung. Sementara itu, Kapolres Garut AKBP. Yugi Bayu Hendarto menyatakan bahwa pihaknya masih melakukan penyelidikan mendalam untuk mengungkap akar permasalahan dan pihak yang bertanggung jawab. Masyarakat pun menunggu dengan cemas hasil investigasi tersebut, yang diharapkan dapat memberikan kejelasan dan keadilan.

Bireun, Aceh: Makanan Basi dan Berbelatung

Tragedi serupa tak lama kemudian terjadi di ujung barat Indonesia. Pada Kamis (18/9/2025), puluhan pelajar SDIT dan SMP IT Azkiya Bireuen, Aceh, juga mengalami nasib serupa. Usai menyantap menu MBG, mereka mengeluhkan sakit perut, mual, dan muntah-muntah.

Yang membuat miris, penyebabnya diduga bukan hanya kesalahan pengolahan, tetapi kelalaian yang sangat fatal. Sebagian makanan yang disalurkan ke sekolah diduga telah basi, bahkan ada yang sudah mengeluarkan belatung. Kondisi ini tentu saja membuat para siswa jijik dan enggan untuk memakannya. Insiden ini mempertanyakan kontrol kualitas dan mekanisme distribusi yang dilakukan oleh penyedia jasa. Bagaimana mungkin makanan dalam keadaan seperti itu bisa sampai ke tangan anak-anak sekolah?

Selayar, Sulsel: Viral Menu Minim, Gizi Dipertanyakan

Di Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, masalah yang dihadapi berbeda namun tak kalah memprihatinkan. Bukannya keracunan, program MBG di sana viral karena menu yang dinilai sangat tidak memadai.

Sebuah foto yang beredar menunjukkan menu MBG di sebuah SD Negeri di Kecamatan Pasimasunggu yang hanya berisi nasi dengan lauk beberapa ekor ikan teri kering—yang jumlahnya hanya belasan—di dalam ompreng (wadah makanan). Jelas, porsi dan kandungan gizinya sangat jauh dari kata “bergizi” dan tidak memenuhi syarat untuk memenuhi kebutuhan gizi seorang anak yang sedang dalam masa pertumbuhan.

Netizen ramai-ramai mempertanyakan kualitas menu tersebut. Banyak yang menyoroti lemahnya pengawasan dari pihak berwenang terhadap penyedia jasa. “Ini program bergizi atau program sekadar ada makanan?” tanya seorang netizen dengan nada kecewa. Viralnya foto ini menunjukkan betapa publik memiliki kepedulian tinggi terhadap kualitas program pemerintah, terutama yang menyangkut masa depan anak bangsa.

Refleksi Bersama: Darurat Tata Kelola Program MBG

Rentetan insiden dari tiga daerah ini bukanlah hal yang bisa dipandang sebelah mata. Ini adalah lampu merah untuk tata kelola program MBG secara nasional.

  1. Pengawasan dan Kontrol Kualitas yang Lemah
    Insiden di Bireun dan Garut menunjukkan titik lemah dalam hal pengawasan mutu bahan baku, proses memasak, kebersihan, dan distribusi. Harus ada protokol yang ketat dan pengawasan berjenjang untuk memastikan makanan yang disajikan aman dan layak konsumsi.

  2. Standar Menu yang Tidak Jelas dan Terpantau
    Kasus di Selayar menunjukkan bahwa standar menu “bergizi” mungkin tidak diterjemahkan dengan baik di lapangan atau sengaja diminimalkan untuk mengeruk keuntungan. Perlu adanya standar porsi, kandungan gizi, dan variasi menu yang jelas, terukur, dan dipantau secara rutin oleh dinas terkait.

  3. Sistem Lelang dan Penunjukan Penyedia
    Pertanyaan besar juga muncul pada proses lelang atau penunjukan penyedia jasa katering MBG. Apakah prosesnya transparan dan memprioritaskan kualitas, atau hanya berorientasi pada harga termurah? Memilih penyedia dengan harga terendah seringkali berimbas pada kompromi terhadap kualitas dan keamanan pangan.

  4. Edukasi dan Pelatihan bagi Penyedia
    Penyedia jasa harus diberikan pelatihan bukan hanya tentang pengelolaan keuangan, tetapi lebih penting tentang keamanan pangan, sanitasi, dan gizi seimbang. Mereka memegang tanggung jawab besar atas kesehatan ratusan bahkan ribuan anak.

Program MBG memiliki niat dan tujuan yang sangat baik. Namun, niat baik saja tidak cukup. Carut marut dari Garut, Bireun, hingga Selayar harus menjadi momentum evaluasi dan perbaikan total.

Pemerintah pusat dan daerah harus duduk bersama untuk membenahi sistem. Mulai dari memperketat standar operasional prosedur (SOP), meningkatkan frekuensi dan kualitas pengawasan, menindak tegas penyedia yang lalai, hingga memastikan transparansi dalam proses pengadaan.

Anak-anak sekolah adalah generasi penerus bangsa. Mereka berhak mendapatkan nutrisi yang aman dan bergizi untuk mendukung tumbuh kembang dan prestasi mereka. Jangan biarkan program mulia ini terus dicemarkan oleh carut marut tata kelola yang berujung pada penderitaan mereka.

BRIMO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.