, ,

Semangat Kebudayaan Menyala! 183 Peserta Ramaikan Lomba Menyumpit Birau Bulungan 2025

by -609 Views

Peserta Meningkat, 183 Orang Ikuti Lomba Menyumpit Birau Bulungan 2025 di Tanjung Selor

News Tanjung Selor– Semangat kebudayaan dan tradisi kembali berdenyut kencang di jantung Kalimantan Utara. Sebanyak 183 peserta dengan penuh semangat dan antusiasme ambil bagian dalam Lomba Menyumpit Tradisional yang digelar di area parkir Kebun Raya Bundayati, Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, pada Rabu (15/10/2025). Gelaran yang menjadi salah satu pilar utama dalam perhelatan Birau Bulungan 2025 ini bukan sekadar perlombaan, melainkan sebuah napas panjang yang menghidupkan kembali warisan leluhur di tengah arus modernisasi.

Lomba menyumpit ini diselenggarakan sebagai bagian tak terpisahkan dari rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-65 Kabupaten Bulungan dan hari jadi Ibu Kota Provinsi, Tanjung Selor, yang ke-235. Perhelatan Birau sendiri merupakan sebuah festival budaya besar yang merangkum seluruh kekayaan seni, tradisi, dan kearifan lokal masyarakat Bulungan.

Antusiasme Meningkat, Tradisi Tetap Terjaga

Salah satu panitia Lomba Menyumpit, Amrin, dengan bangga memaparkan peningkatan partisipasi yang sangat signifikan. “Tahun ini pesertanya lebih banyak. Di Birau sebelumnya tidak sampai seratus peserta. Tahun ini 183 orang. Lebih meriah tahun ini,” ungkapnya, menekankan gelora semangat baru yang menyelimuti acara tahunan tersebut.

Dari total 183 peserta, tercatat 132 peserta berasal dari kategori putra dan 51 peserta dari kategori putri. Peningkatan jumlah peserta, khususnya dari kalangan perempuan, menjadi indikator positif bahwa olahraga tradisional ini tidak hanya dilestarikan, tetapi juga semakin diminati oleh berbagai kalangan generasi muda.

RRI.co.id - Birau Bulungan 2025: Festival Budaya dan UMKM Terbesar

Baca Juga: Peserta Meningkat, 183 Orang Ikuti Lomba Menyumpit Birau Bulungan 2025 di Tanjung Selor

Amrin menjelaskan bahwa perlombaan yang mempertandingkan dua kategori, yaitu perorangan putra dan perorangan putri, ini memiliki tingkat kesulitan yang setara. “Untuk kategori putra – putri di Lomba Menyumpit jarak tembaknya sama, yaitu antara 15 – 20 meter,” jelasnya. Kesetaraan ini menunjukkan bahwa ketepatan dan ketenangan, bukanlah semata-mata soal kekuatan fisik, menjadi kunci utama dalam olahraga tradisional ini.

Bullseye: Ketepatan yang Diadu

Sistem penilaian yang diterapkan dalam lomba ini adalah sistem bulls-eye, sebuah metode klasik yang mengutamakan ketepatan mutlak. Hanya damak atau anak sumpit yang berhasil menancap di dalam lingkaran targetlah yang akan mendatangkan poin. Nilai poin ini kemudian dihitung berdasarkan kedekatannya dengan titik tengah.

“Yang lingkaran paling tengah, mendapatkan poin paling tinggi,” terang Amrin, menggambarkan tensi dan konsentrasi tinggi yang dibutuhkan setiap peserta. Setiap peserta diberikan kesempatan untuk melesatkan 10 anak sumpit. Kemenangan ditentukan dari akumulasi poin tertinggi yang berhasil dikumpulkan dari kesepuluh anak sumpit yang menancap di target.

Sumpit, sebagai senjata tradisional khas Suku Dayak, bukanlah alat mainan. Dahulu kala, ia berfungsi sebagai senjata berburu dan pertahanan diri. Kini, dalam konteks lomba, nilai-nilai keluhurannya—seperti kesabaran, fokus, dan ketepatan—tetap dihidupkan, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui event-event seperti ini.

BRIMO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.