, ,

Suasana Mencekam di Pasar Induk Tanjung Selor Menyambut Sidak Mendadak Satgas Pangan

by -539 Views

Sidak di Pasar Induk Tanjung Selor: Harga Beras Melambung, HET Terabaikan

News Tanjung Selor– Suasana Rabu (22/10/2025) pagi di Pasar Induk Tanjung Selor, jantung perputaran barang di Ibu Kota Kalimantan Utara, mendadak tegang. Kedatangan Tim Satuan Tugas (Satgas) Pangan Kaltara yang dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop dan UKM) Kaltara, Hj Hasriani, menandai dimulainya sebuah inspeksi mendadak (sidak) yang menyoroti persoalan paling mendasar: harga beras.

Sidak yang melibatkan gabungan kekuatan dari Disperindagkop Kaltara, Badan Pangan Nasional (Bapanas), dan Subdit 1 Indagsi Ditreskrimsus Polda Kaltara ini bukan sekadar rutinitas. Ia adalah respons atas gelombang keluhan masyarakat mengenai mahalnya harga sembako, dengan beras sebagai primadona yang harganya terus merangkak naik.

Fakta Pahit di Balik Tumpukan Karung Beras

Tim Satgas bergerak lincah, mendatangi satu per satu pedagang grosir dan eceran. Pertanyaan yang sama diajukan: “Berapa harga jual beras medium dan premium hari ini?” Jawaban yang diterima seragam dan mengkhawatirkan: hampir semua harga jual berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.

Seorang pedagang, yang enggan disebutkan namanya, mengaku menjual beras premium kemasan 5 kilogram seharga Rp 90.000. “Artinya, per kilogramnya kami jual Rp 18.000,” ujarnya. Angka ini jauh melampaui HET beras premium yang ditetapkan untuk zonasi Kaltara, yaitu Rp 15.400 per kilogram.

Suasana Mencekam di Pasar Induk Tanjung Selor Menyambut Sidak Mendadak Satgas Pangan
Suasana Mencekam di Pasar Induk Tanjung Selor Menyambut Sidak Mendadak Satgas Pangan

Baca Juga: Gubernur Kaltara Sebut Dana Bantuan Rp150 Miliar dari Kemenkeu Hanya untuk Jembatan di Krayan

Yang lebih memprihatinkan, di balik harga jual yang tinggi itu, margin keuntungan yang diraup pedagang ternyata sangat tipis. “Untung kita itu paling Rp 3.000 atau Rp 5.000 per karung isi 5 kilogram. Paling tinggi sudah Rp 5.000. Karena kita tidak bisa juga kasih harga tinggi, pasti tinggal. Tidak dibeli orang,” keluh pedagang tersebut. Pengakuan ini membuka tabir persoalan yang sebenarnya: masalahnya bukan terletak pada keserakahan pedagang, melainkan pada struktur harga di level yang lebih atas.

HET di Atas Kertas vs Realita di Lapangan

Dalam Suasana konferensi pers usai sidak, Kepala Disperindagkop Kaltara, Hj Hasriani, dengan tegas mengingatkan aturan yang berlaku. “Sesuai ketentuan, HET untuk beras premium ditetapkan Rp 15.400 per kilogram dari pedagang ke konsumen. Kalau untuk beras medium itu HET-nya Rp 14.000 per kilogram,” jelasnya.

Ditemukannya harga jual di atas HET, lanjut Hasriani, adalah pelanggaran yang tidak bisa ditoleransi. Ia mengingatkan adanya sanksi tegas bagi pelanggarnya. “Padahal aturannya, kalau ketentuan HET ini tidak dijalankan, sanksinya bisa pencabutan izin, hingga bisa pidana,” tegasnya. Peringatan ini jelas ditujukan untuk menegakkan wibawa hukum dan melindungi daya beli masyarakat.

Namun, persoalannya tidak sesederhana hitam putih. Bambang Hariyanto, Fungsional Analis Ketahanan Pangan (AKP) Ahli Madya Bapanas yang turut dalam sidak, memberikan penjelasan yang lebih komprehensif. Ia menegaskan bahwa penetapan HET bukanlah angka yang dibuat secara sembarangan, melainkan hasil evaluasi yang mempertimbangkan kondisi riil.

“Untuk HET ini, dari perdagangan membahas adanya zonasi. Itu ada zonasi I, II dan III. Khusus untuk di Kaltara masuk zonasi I yang mana HET beras premium Rp 15.400 dan beras medium Rp 14.000 per kilogram,” papar Bambang.

Biaya Logistik: Biang Kerok Disparitas Harga

Lalu, mengapa aturan yang tampaknya sudah dippertimbangkan matang ini tetap tidak mampu menahan laju harga di pasaran? Jawabannya terungkap dari hasil pembicaraan dengan para pedagang dan pengamatan tim: tingginya biaya transportasi dan logistik.

BRIMO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.